Jumat, 22 Juli 2016

Buah, Teman Hidup Sehat Sebelum dan Setelah Lebaran

Mudik lebaran dan kumpul bareng keluarga udah. Saatnya kita kembali ke rutinitas di kota domisili masing-masing. Tapi, nggak ada salahnya kan kita flashback sebentar ke masa-masa puasa Ramadhan lalu. Jangan cuma flashback ke masa-masa sama mantan dulu. Eh.

Salah satu kubah bangunan di Malang
Berpuasa, terlebih bagi saya yang berbadan besar dan doyan makan ini adalah momen dengan tantangan tersendiri. Pertama, takut lemes dan nggak kuat iman tapi yang kedua, kan lumayan bisa sekalian diet. Maksud terselubung.

Selama berpuasa terjadi perubahan setidaknya pada pola makan, jam makan dan jam istirahat. Saat sahur, saya pribadi kadang malas bangun atau memang nggak kebangun sama alarm. Diperlukan perjuangan ekstra melawan kantuk dan rasa malas makan kala sahur. Setelah subuh, rasa ingin tidur lagi seringkali nggak terbendung. Akibatnya, pas bangun pagi mulut terasa aneh dan perut pun begah. Waktu berbuka, waktu yang paling dinanti ketika berpuasa juga nggak selamanya indah. Kalap makan gorengan dan minuman manis kadang berujung pada malas tarawih, pada penyesalan.

Suka kalap kalo buka puasa
Tapi itu dulu. Makin kesini, saya makin menyadari bahwa puasa selain tentu saja tentang menjaga hawa nafsu dan empati sosial, pun juga mengenai mengendalikan nutrisi, porsi, dan emosi ketika makan.

Pada saat sahur, terkadang kita mendahulukan konsumsi makanan-makanan yang simple, nampak lezat dan mengenyangkan. 'Makan yang kenyang biar puasanya kuat ya kak' adalah anjuran orang tua semasa kecil yang kadang bikin salah kaprah. Padahal ada yang lebih penting daripada kenyang. Yap, makan makanan dengan nutrisi seimbang dan yang bisa memberi tubuh energi secara perlahan-lahan. Bukan yang bikin kenyang (sesaat) tapi malah bikin gampang laper.

Pada saat berbuka, boro-boro milih, semua juga keliatan enak. Apalagi kalau kita dihadapkan sama all-you-can-eat food buffet, semua bisa diembat sampe nafas kadang tersumbat dan langkah kaki terasa lambat. Bisa-bisa juga bikin gak bisa ngomong, kayak Limbad. Eugh!

Tiap orang punya tips dan trik dalam menghadapi problematika makan ketika puasa. Kalau saya sih simple. Selain makan secukupnya dengan komponen seimbang seperti karbohidrat (nasi putih, nasi merah, oatmeal, atau kentang), protein (daging, telur, ikan atau kacang-kacangan) dan sayur, yang tidak kalah penting adalah buah.

Jangan lupakan buah

Kurma
Nggak salah kurma menjadi buah yang identik dengan bulan puasa. Buah yang berasal dari timur tengah ini mengandung banyak zat gula yang memang dibutuhkan tubuh. Tapi jangan salah sangka dulu, zat gula yang ada di dalam kurma ini mempunyai indeks glikemik yang rendah. Jadi energinya bisa disebar ke tubuh secara perlahan. Akibatnya, kita bisa kenyang lebih lama selain juga manfaat lain seperti bisa melawan kolestrol tubuh. Dimakan pas sahur dan berbuka, sama-sama cocok!

Pisang
Daripada mengonsumsi suplemen berbahan kimia, pisang bisa jadi alternatif. Selain bisa membantu melancarkan pencernaan karena mudah dicerna tubuh, pisang juga berkhasiat menormalkan tekanan darah dan menjaga kesehatan jantung. Bisa juga dicemil sebagai takjil praktis kala berbuka!

Jeruk
Jeruk, yang emang jadi favorit karena rasanya yang manis dan segar juga terkenal sebagai buah yang direkomendasikan ketika kita sedang flu atau kurang fit. Nah, segelas jeruk hangat ketika sahur bisa jadi opsi biar nggak gampang drop. Kalau untuk buka puasa? Jus jeruk sepertinya segar dan lebih sehat dibanding es sirup atau milkshake dengan banyak pemanis tambahan.

Apel
Beberapa orang bilang apel adalah salah satu buah yang akrab dikonsumsi oleh seseorang yang sedang diet. Bagaimana tidak, apel memang manjur dalam menekan nafsu makan karena buahnya yang padat dan mengenyangkan. Pas banget nih buat buka puasa. Manfaat yang lebih optimal akan kita dapat jika kita makan apel beserta kulitnya. Tapi jangan lupa dicuci bersih ya.

Pepaya
Kalau ini adalah salah satu buah favorit saya! Gimana nggak, dimakan langsung enak, disiram air jeruk nipis terlebih dulu enak, dipotong kecil dan dibikin es buah juga enak. Ternyata pepaya juga bagus buat orang yang memiliki penyakit maag. Cairan yang terkandung serta daging buahnya yang halus membantu agar lambung tidak nyeri saat mencerna makanan.

Blewah
Blewah jadi salah satu buah yang mudah ditemui di pasar saat bulan puasa. Selain nikmat jika dibuat es blewah saat berbuka, blewah juga cocok dimakan pas sahur lho. Ternyata, blewah punya zat khusus yang bisa membantu usus menyerap makanan yang kurang mudah dicerna. Jadi nutrisi makanan yang kita makan bisa lebih optimal masuk ke dalam tubuh.

Buah-buahan segar [weknowyourdreams.com]

Pada dasarnya, hampir semua buah baik dan berguna bagi tubuh asalkan dikonsumsi secukupnya dan ditunjang dengan pola makan, istirahat dan olahraga yang baik. Meskipun semua buah itu baik, kita harus tetap memperhatikan kualitas dan kesegarannya. Buat saya, Buah Pasti Sunpride!

Mau cari buah nusantara kayak pisang, jeruk baby, guava crystal, nanas honi, pepaya, melon, buah naga, sampe mangga? Ada! Buah mancanegara kayak apple, kiwi, dan pear? Juga ada!
Lengkap kannn? Puasa lengkap, nutrisi juga lengkap deh.

Nah, setelah sebulan puasa biasanya kita nggak bisa terlepas dari lebaran yang menyajikan makanan-makanan yang mengandung banyak lemak dan kolestrol seperti opor, rendang, bakso, sambel goreng ati juga kue-kue kering yang mengandung banyak gula. Makanan-makanan enak ini memang menggetarkan lidah dan membuat kelenjar saliva mengucur tak henti.

Cukuplah sudah menggetarkan lidah selama 1 atau 2 minggu saat lebaran. Saatnya kita kembali menggetarkan tubuh alias kembali ke pola hidup sehat. Olahraga, diet atau pola makan dengan gizi seimbang, serat cukup, dengan buah sebagai nutrisi pelengkap. Cukup hati saja yang lebaran, badan jangan ikut lebar-an.


Kali aja males baca, ini ada video yang kurang lebih menceritakan tentang pentingnya buah sebagai kelengkapan nutrisi kala berpuasa Ramadhan. Kalo udah baca atau ngeliat video, boleh lho kasih komen. Kalo males kasih komen, at least doain saya ya biar bisa jalan-jalan ke kebun Sunpride di Lampung dan dapat pasokan buah selama 3 bulan. Beneran, lagi pengen banget balik langsing kayak tahun 2013. Aamiin.

Jumat, 15 Juli 2016

Alun-Alun Malang, Kamu Berubah

Menurut wikipedia, alun-alun (dulu ditulis aloen-aloen atau aloon-aloon) adalah suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput juga dikelilingi oleh jalan serta dapat digunakan untuk kegiatan masyarakat.

Sebagai warga Malang yang sudah sejak 2002 pindah kemari, alun-alun kota Malang jelas nggak bisa terpisahkan. Dari sekedar jalan-jalan pagi, mampir sepulang sekolah buat duduk-duduk sambil ngemil tahu petis, sore-sore makan jagung bakar, sampai nonton tandak bedhes di malam hari. Tapi itu dulu...

Sekarang?
Sejak Ramadhan 2015 ada beberapa perubahan yang terjadi pada alun-alun kota Malang. Perubahan yang cukup signifikan sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menutup sementara alun-alun. Sebenernya sih alun-alun kota Malang tetap di Jalan Merdeka. Tetap gratis (kecuali parkir). Tetap sejuk. Juga tetap banyak jajanan. Terus, yang berubah apanya?

Pedagang Kaki Lima
Kalo dulu kita bisa dengan mudahnya menemukan pedagang kaki lima di dalam alun-alun, sekarang jangan harap. Kita tetap bisa makan dan minum di dalam alun-alun tapi dengan bekal sendiri atau membeli makanan di luar alun-alun. Jangan khawatir, kita bisa membeli aneka streetfood seperti cilok, sempol, dan es puter di bagian Selatan dan Timur alun-alun. Jika ingin merogoh kocek lebih dalam, McDonald's, KFC hingga Toko Oen Ice Cream juga terletak tidak jauh. Tapi ingat, buanglah sampah pada tempatnya.

Pedagang Es Puter di Selatan Alun-Alun Malang (depan Kantor Pos)
Es Puter: Eskrim santan pake roti, kelapa, jelly, dll.
Cilok Malang!
Sempol yang lagi hits: cilok yang ditusuk, dibalur telor lalu digoreng,

Rumput Hijau
Jika dulu seingat saya lebih banyak wilayah yang di-paving block, saat ini terdapat hamparan rumput hijau yang lebih luas. Mata jadi lebih segarrr.
Bersantai di Alun-Alun sambil ngobrol atau ngemil.
Kursi Taman yang Antik
Ketika saya masih berstatus sebagai pelajar SMP dan SMA, tidak sedikit pasangan yang bermesraan di alun-alun kota Malang. Salah satu penyebabnya adalah tempat duduk yang terbuat dari semen serta berdinding agak tinggi sehingga terkadang tidak terlihat oleh pengunjung lain. Kalo sekarang, beberapa kursi kayu panjang nan antik terpampang nyata di beberapa sudut alun-alun. Masih bisa duduk berduaan, tapi kan meminimalisasi yang enggak-enggak.
Bangku Taman Antik
Selfie Spot
Pemkot mungkin sadar kalo hari gini tuh banyak orang yang nggak bisa terlepas dari foto-foto alias selfie atau wefie. Beberapa selfie spot pun muncul. Misalnya backdrop bergambar sayap dan tulisan Alun-Alun Malang yang begitu artsy.
Berfoto dengan backdrop sayap
Tulisan Alun-Alun Malang di sebelah utara
Games Spot atau Area Rekreasi Gratis
Yang sangat mencolok menjadi pusat keramaian di alun-alun Malang adalah beberapa taman bermain untuk anak-anak. Bernama Taman Aktif Alun-Alun Merdeka, area ini dikhususkan untuk anak-anak yang berusia 3-12 tahun dari pukul 08:00 sampai 18:00 WIB.
Selain itu, ada juga papan catur raksasa di sebelah barat alun-alun. Tapi saya bingung; mana biji caturnya? Atau tiap orang harus berperan sebagai biji catur yang masing-masing berdiri di salah satu kotak?
Taman Aktif Alun-Alun Merdeka
Ikut ayunan, dong,
Papan Catur Raksasa
Alun-alun kota Malang dikelilingi beberapa tempat menarik seperti Masjid Agung Jami' dan Gereja Protestan Immanuel yang bersebelahan, Kantor Pos, Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, Mal Alun-Alun atau juga dikenal dengan Ramayana, Gramedia, Sarinah, Toko Oen Ice Cream, Mitra, Gajahmada Plaza, dan Malang Plaza.
Masjid Agung Jami' Malang
Gereja Katolik Hati Kudus Yesus
Selebihnya sih tetap sama, masih ada beberapa rumah/ kandang berisi burung dara yang terkadang turun bergabung dengan pengunjung juga ada toilet jika ada yang mendadak kebelet. Hihihi.
Kandang Burung Dara
Kalau ada yang mau koreksi atau menambahkan silakan yaaa. Maklum, ini hanya eksplorasi singkat beberapa hari lalu ditambah memori seadanya. Enjoy Malang! :D

Twitter: @brianardianto
Instagram: @brianardianto

Minggu, 10 Juli 2016

Lebaran, Sungkem sama Pantai Selatan Blitar!

Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa buat kita semua yang ngerayain. Mohon maaf kalau saya ada salah-salah perbuatan, juga kata, ejaan, tanda baca, bahasa, dan emoji. Kali aja situ guru Bahasa Indonesia. Eh. :)))

Ngomong-ngomong Idul Fitri yang suci, bersih, dan putih, kalo nggak disengajain nulis malem-malem kayak gini bisa-bisa blog saya juga 'bersih' ampe berminggu-minggu. Maklum, nyang nulis masih belajar komitmen dalam menjalin relationship dengan blog. Kali aja bisa berlanjut ke jenjang berikutnya. Ngok.

Bukan cuma kamu di mata aku, lebaran kali ini juga beda. Masih inget tahun lalu di hari pertama lebaran harus bangun jam 4 pagi (berasa masih ikutan sahur) karena seperti biasa harus nganter mama cuci darah ke rumah sakit dan Sholat Ied di deket rumah sakit. Tapi setelah mama pergi 26 Desember 2015 lalu, praktis lebaran kali ini adalah lebaran pertama tanpa mama... setelah 25 tahun selalu lebaran bareng.


...

Dulu pas masih SD sih sering banget lebaran sekaligus di luar kota (Jogja). Tapi semenjak papa sudah semakin berumur dan mama sakit, kami lebih sering lebaran di rumah (Malang). Mentok-mentok juga main ke keluarga besar di Surabaya. Nah, kemaren pas sampe di Malang, ternyata papa udah book hotel di Blitar buat tanggal 5, 6, 7 Juli. Dari H-1 sampai H+1 lebaran. Ini sih pasti karena request Tifara, si adek bungsu yang hobi banget jalan-jalan. Kalo kakak-kakaknya (saya dan Jose) sih lebih suka di rumah aja, lebih pewe.

Selasa pagi kami pergi ke makam mama, eyang ti, dan kakek sebelum berangkat ke Blitar. Perjalanan ke Blitar cukup lancar, cuma terkendala kepadatan kendaraan di beberapa titik aja. Nggak sampe macet parah kayak Brexit, alhamdulillah. Setelah kurang lebih 3 jam berada di perjalanan, akhirnya sampai juga kita di hotel. Check-in, lurusin kaki, ke resto deh. Lho, kok?

Santai bro, kita tuh pergi ke resto cuma buat reservasi buka puasa nanti sore. Maklum, papa tuh tipe orang yang parno dan well-prepared. Sebagai anak yang baik ya hayuk ajalah disuruh reservasi, namanya juga berkunjung ke negeri orang. Eh, kota orang. 

Depot Es Mini 2 Blitar
Hayo, kalo orang Blitar asli atau demen kuliner di Blitar pasti tau resto yang satu ini. Depot yang beralamat di Jl. Dr. Wahidin 14A Blitar ini emang udah terkenal sedari dulu. Nggak tau sih kenapa, yang jelas dari SD kalo jalan-jalan ke Blitar, papa sering banget ngajak kesini.

Pas tadi siang kesini, sayang banget udah banyak menu makanan dan minuman yang lagi nggak ada. Katanya sih karena besok (pas lebaran) dan beberapa hari ke depan bakal tutup. Alhasil pesen menu seadanya aja deh; nasi sop ayam, nasi kare ayam, dan nasi campur daging. Minumnya pesen es teler, es beras kencur, es soda gembira dan es jeruk. Semoga memuaskan.

Pas jam 5 sore sampe sana (30 menit sebelum waktu buka puasa), bener aja 80% sampai 90% tempat udah ada yang nempatin. Untung aja di meja pojok deket kasir udah ada tulisan "sudah dipesan mas Bryan". Hihihi. Satu per satu menu yang saya pesan diantar ke meja. Tapi sayang, es teler dan es beras kencurnya habis. Kecewa sih, soalnya pas reservasi dibilang masih ada eh ternyata pas dateng udah abis. Yang bikin kecewanya dobel, udah 3 kali bilang sama waiter buat ganti minuman yang abis ke minuman 'standar' macem es jeruk dan es teh tapi sampai kami selesai makan minumnya nggak dianter-anter. Huhf, untung aja ada ta'jil es cincao gratis. *anaknya gampangan*

Nasi Campur Daging
Nasi Sop Ayam
Untuk rasa makanannya sih menurut saya standar enak aja. Apalagi buat buka puasa, makanan apa sih yang nggak enak. Hahaha. Jadi emang agak-agak susah kalo ngereview makanan pas buka puasa. Bawaannya tuh enak sama enak banget. Kritiknya ya cuma di pelayanan aja sih, tapi kami maklum karena emang pengunjung restonya lagi buanyaaaak buangeeeet. Beberapa juga rela berdiri sambil menunggu pengunjung lain selesai makan.

Kalian nyadar nggak sih, kalo makanan yang kita pesen di Depot Es Mini cuma 3 macem? Bukan geng jumbo namanya kalo cuma makan segitu buat ber-4. *emoji nangis sambil ketawa*

Sate Kambing & Gule sebelah Depot Es Mini 2 Blitar
Jadi tadi siang tuh kami juga pesen sate kambing 15 tusuk dan gule kambing, udah dibayar 100% dan bilang bakal diambl nanti sore jam 5.

Kayaknya emang resto di Blitar lagi kewalahan melayani pembeli di hari puasa terakhir deh. Gimana enggak, pas jam 5 sore mau ambil pesenan sate & gule, penjualnya bilang kalo gule kambingnya belum tanak dan masih alot. Alhasil menjelang setengah 6 kita ke warung itu lagi buat ambil gulenya, bagaimanapun keadaannya. Bener aja, gule kambingnya masih agak alot dan kurang maknyus. Satu lagi, pas mau mulai makan sate kambing, saya menyadari kalo ternyata kita cuma dikasih 13 tusuk. Mau komplen tapi udah mager buat wira-wiri ke warung sebelah. Ya nasib. Disyukuri aja masih bisa buka puasa dengan nikmat.

Sate Kambing. Coba itung deh berapa tusuk. :)))

Es Drop, Tahu Petis, Cilot Blitar dan Martabak
Nggak seru kali ya kalo langsung balik ke hotel abis buka puasa. Alhasil kami mutusin buat muter-muter kota Blitar sembari lanjutin kulineran. Rasanya mau 'balas dendam' akibat berbagai kasus buka puasa tadi. Hehe.

Yang pertama adalah es drop! Es drop atau es blitar ini biasa dibungkus dengan kertas yang udah tercetak nama dan alamat pabriknya. Bentuknya menyerupai es krim tapi dengan tekstur lebih mirip es serut yang padat. Rasa es drop sendiri bermacam-macam; mulai dari durian & original kacang hijau (favorit kami), juga ada rasa cokelat, strawberry, frambose, dan lain-lain. Produksi es drop mudah dijumpai di jalan Ahmad Yani. Selain dijual di beberapa toko kelontong, es drop juga sering dijajakan melalui pedagang keliling yang mengendarai sepeda tua yang di sebelah kanan dan kiri joknya terdapat termos berwarna merah. Rasa es drop ini nggak berubah sedari dulu pertama kali cobain. Cobain deh kalo ke Blitar. Rp.3.500 saja per buah.

Setelah keliling Blitar sembari mengingat-ingat memori tentang kota ini, saya pun mengajak papa buat ke alun-alun Kota Blitar, pengen masuk aja sembari 'liat-liat' ada street food apa aja. Karena si Jose ngidam tahu petis, alhasil kita beli tahu petis dan gorengan lainnya (tahus isi & pisang molen) di deket pintu masuk alun-alun. Petisnya beda sama yang di Malang, lebih enak yang ada di Malang. Pisang molennya juga keras dan nggak manis. Apa mungkin karena kita salah pilih pedagang gorengan yaa? (Harga: Rp.700-Rp.800)

Tahu Petis time!
Kalo saya ngidamnya sama cilot. Soalnya penasaran kok namanya cilot, padahal di kota-kota lain (Malang, Surabaya, Jakarta, Bandung, Bogor) namanya cilok. Mungkin karena aci yang lembut bisa berubah jadi alot setelah dimasak, atau karena si aci yang emang lagi nyolot? Krik. Krik. Krik. Soal rasa sih yaa gitu deh, mirip sama cilok Bandung yang kenyal. Kalo cilok Malang lebih mirip sama cilok Bogor yang lebih lembut dan nggak terlalu kenyal.

Terakhir (janji deh terakhir di malam ini), kita beli martabak telor. Kalo yang ini karna bm nya Tifara. Yaudah deh, sekalian buat bekal cemilan Euro dini hari nanti. (Harga: Rp.10.000-Rp.30.000)

Suasana di Sekitar Alun-Alun
...

The Day
"Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar.. Allaahu akbar walillaahil hamd"

Sejak semalam, gema takbir terdengar dimana-mana. Sayang sedikit terganggu dengan suara petasan yang juga heboh bahkan di pelataran hotel.

Pukul 6 pagi, kami berempat bergegas ke alun-alun Kota Blitar untuk Sholat Ied. Setelah sholat, kami langsung balik ke hotel buat sarapan. Alhamdulillah sarapan hari ini dapet opor ayam, sambel goreng kentang ati, dan telur bumbu petis. Syurga! Yang beda dari opor ayam yang biasa saya makan adalah terdapat bubuk kedelai sebagai pelengkap, manis gurih gitu rasanya.

Menjelang Sholat Ied (Ki-Ka: Jose, Tifara, saya)
Suasana Sholat Ied di Alun-Alun Kota Blitar
Sarapan Opor Ayam pake Bubuk Kedelai!
Setelah sarapan, kami langsung bersiap-siap buat silaturahim ke rumah Budhe. Guess what, setelah ngobrol dan ngemil di rumah budhe, kami diminta mencicipi masakan lebaran budhe yang juga lontong ketupat, opor ayam, lengkap dengan sambal dan bubuk kedelai nya. Hahahaha berasa dejavu gak sih? Plaaaak! Mau nolak tapi nggak enak, mau makan lagi tapi kok menunya sama. Tapi bedanya opor ayam budhe pake ayam kampung, bukan kampus ya.

Di rumah budhe. Dulu sering banget nginep di sini. Dulu masih adem, sekarang beberapa kamar udah pasang AC. :)))
Kurang lebih pukul 10 kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dengan tujuan Kampung Coklat, yang hits setahun belakangan. Tapi ya namanya lebaran, pas sampe sana ternyata tutup. Yaudah lah wisata kampung coklat nya liat-liat di google aja.

Destinasi selanjutnya adalah pantai selatan. Jangan kepikiran Nyi Roro Kidul Ratu Pantai Selatan dulu. Blitar bagian selatan memang berbatasan dengan daerah laut selatan Jawa, yaitu Pantai Tambakrejo.

Pantai Tambakrejo, Blitar Selatan
Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Kota Blitar untuk sampai ke Pantai Tambakrejo. Dengan jalanan yang berbukit, meliuk-liuk, kadang berbatu dan tidak rata, dibutuhkan keahlian mengemudi yang cukup serta kendaraan yang kuat menghadapi tanjakan. Tiket masuk menuju kawasan Pantai Tambakrejo adalah sebesar Rp.3.000 per orang atau juga Rp.3.000 per sepeda motor.

Kesan pertama ketika memasuki kawasan ini adalah, sepi. Lagi-lagi, mungkin karena lagi hari raya ya. Setelah mencoba kesana kemari sembari mencari parkir mobil yang sekat dengan warung, kami juga melihat salah satu bagian pantai yang menurut kami cukup seram. Terdapat tembok-tembok penghalang di bibir pantai dengan ombak luar biasa besar yang menghantam dinding tersebut setiap beberapa detik. Benar-benar ciri khas pantai selatan Jawa. Tak heran, beberapa peringatan akan larangan berenang atau mandi di laut terpampang manja nyata.

Ombak!
Pantai ini terbagi menjadi 3 bagian, bagian pertama berada di ujung timur berupa pantai berpasir, bagian tengah merupakan pemecah ombak dan bagian barat merupakan pantai sebagai dermaga kapal.

Di atas perahu yang terdampar di Pantai Tambakrejo
Salah satu sudut Pantai Tambakrejo
Mungkin Pantai Tambakrejo bukan pantai terindah yang pernah saya kunjungi. Namun, pemandangannya cukup mengobati kerinduan saya yang sudah beberapa bulan nggak ke pantai. Nah, selain pemandangan, salah satu hal yang nggak boleh dilewatin kalo ke sini adalah berwisata kuliner. Masakan laut yang cukup populer di sini adalah ikan asap dan ikan bakar. Syukur, di pasar ikan masih ada 1 penjual yang tetap berjualan ikan asap. Tentu saja, dengan belasan calon pembeli yang mengitarinya. Kami nggak mau kalah. Kami ikut mengantri untuk membeli tuna asap untuk dibawa pulang ke Malang.

Kami sampai di Pantai Tambakrejo tepat ketika matahari berada di atas kepala, siang bolong. Panasnya luar biasa. Es degan (atau es kelapa) menjadi harta karun yang kemudian kami cari. Dari kejauhan kami melihat bapak-bapak yang sedang memotong kelapa di samping warung bakso miliknya. Tanpa pikir panjang kami langsung membantu bapak tersebut memotong kelapa. EIYAKALI! Kami langsung masuk ke warung bakso dan memesan 3 gelas es degan. Tergiur dengan bakso-bakso di meja makan, kami juga memesan bakso. Hahaha. Tidak disangka, ternyata baksonya enak! Lembut, kenyal dan besar dengan harga hanya 10ribu rupiah per mangkok. Es degan dengan harga 3ribu rupiah pun berasa seger banget dan manisnya pas.

Yang bikin gokil adalah bapak-ibu pemilik warung bakso tersebut mempersilakan kami mencicipi kue-kue lebaran yang tersedia di meja kami. Jumlahnya tidak sedikit, ada aneka kripik, kacang koro, jenang, dan lain-lain. Papa yang kebetulan nggak ikut pesen bakso dengan sigap menyerbu jajanan lebaran tanpa basa-basi. Bener-bener sungkem sama pantai!

...

Alhamdulillah selama di Blitar juga sempet makan Ikan Kutuk Mangut Kuah Pedas dan Nasi Pecel Melati Mbak Yuli. Semuanya enak! Terima kasih Blitar sudah mengawali lebaran saya dengan kuliner dan kenangan-kenangan indahnya! :D

Ikan Kutuk Kuah Pedas!

Kamis, 30 Juni 2016

Blogger Gathering VIVA sekaligus Buka Bersama Anak Yatim

Masih anak bawang jika saya disebut sebagai blogger VIVA.co.id. Maklum, latar belakang saya ikut VIVA Blogger Gathering berawal dari rasa penasaran saya tentang apa itu VIVA Log. Setelah mencari tahu apa itu VIVA Log, akhirnya saya mencoba mengirim beberapa artikel blog dan ikut mendaftar VIVA Blogger Gathering.

Vlog atau VIVAlog
Jadi, Vlog atau VIVAlog adalah platform untuk berbagi, mempromosikan, dan meningkatkan traffic blog-blog terbaik dan paling menarik di Indonesia. Siapapun dipersilakan mengirimkan blog, dengan syarat tertentu. Hal yang harus dilakukan pertama kali tentu saja dengan mendaftar menjadi member vivanews via http://log.viva.co.id atau http://member.viva.co.id/register. Setelah itu, kita dapat mengirimkan VIVAlog dalam bentuk artikel, foto, maupun video. Berkat adanya VIVAlog, kita tidak perlu khawatir akan sepinya traffic blog kita. Jadi makin semangat menuangkan ide dan gagasan, bukan?

Tampilan Form VIVAlog atau Vlog
Beberapa hari sebelum Gathering, diumumkan siapa 30 blogger terpilih untuk mengikuti Blogger Gathering. Saya termasuk 1 diantaranya, Alhamdulillah.

Senin, 27 Juni 2016
Jalanan Jakarta yang macet (mungkin karena saya memilih lewat Pasar Tanah Abang) tidak menyurutkan niat saya untuk tetap semangat ikut blogger gathering sekaligus bertemu dengan adik-adik yayasan. Sekitar pukul 15:30WIB saya sampai di Hotel Millennium Jakarta bersamaan dengan tibanya bus anak-anak yatim piatu yang juga diundang.

Acara yang bertajuk Simfoni Kebersamaan ini dimulai dengan sambutan Ibu Dewi selaku perwakilan manajemen Hotel Millennium yang mengungkapkan bahwa acara buka puasa bersama anak yatim merupakan acara yang rutin digelar tiap tahun. Bapak Ahmad Fauzi dari tim VIVA.co.id juga memberikan sambutan dan ucapan terima kasih kepada Hotel Millennium atas kerjasama nya, serta berharap dapat tercipta kerjasama-kerjasama yang lain di masa mendatang.

Internet Sehat
Supaya tetap semangat, tim VIVA.co.id melalui Mas Syahdan Nurdin juga memberikan pembekalan tentang internet sehat. Pembekalan ini cukup penting mengingat 10% pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun. Kurangnya bimbingan dan arahan dalam menggunakan internet secara sehat dapat berakibat fatal terhadap masa depan bangsa Indonesia.

Meskipun adik-adik yayasan sudah nampak lemas dan kurang konsentrasi, beberapa selalu menanyakan "Jam berapa sekarang Om?" kepada saya, mas Syahdan Nurdin tidak menyerah dalam menjelaskan internet sehat ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami.

Mas Syahdan Nurdin dalam Pembekalan Internet Sehat
Bagi-Bagi Hadiah
Setelah sesi pembekalan selesai, MC pun memberikan pertanyaan kepada adik-adik seputar internet sehat. Arman dan Rizky menjadi adik-adik yang beruntung mendapatkan hadiah. Para blogger pun tidak mau ketinggalan. Lima blogger yang datang paling awal juga dipersilakan maju untuk menerima hadiah berupa CD.
Selamat ya Rizki!
Selamat juga Mba Sally! :)
Tausiyah - Keutamaan Doa
Ustad Herry Setiawan juga memberikan tausiyah mengenai Rasulullah yang sangat mencintai anak yatim dan juga keutamaan berdoa kepada Allah SWT. Bahwa salah satu obat agar kita dikaruiniai hati yang lembut adalah dengan mengasihi anak yatim dan dengan mengusap kepala mereka, seperti apa yang dilakukan Rasulullah SAW serta memberi mereka (anak-anak yatim) makanan sama seperti apa yang kita makan (tidak lebih rendah).

Selain itu Ustad Setiawan juga menjelaskan bahwa letak ayat tentang keutamaan berdoa adalah dekat dengan perintah berpuasa. Hal ini dimaksudkan agar pada saat berpuasa, hendaknya kita juga memperbanyak dzikir dan doa. Karena sesungguhnya dzikir itu, meskipun ringan tapi timbangannya sangat berat di akhirat kelak. Doa juga sebaiknya juga panjang, lebar, serta tinggi. Doa yang panjang artinya adalah doa yang banyak, mintalah kesehatan, kekayaan, keberhasilan, keimanan, dan lain-lain. Doa yang lebar adalah doa yang tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, sahabat, rekan, juga semua orang-orang mukmin. Sementara doa yang tinggi adalah doa yang tidak 'tanggung', misalnya doa meminta rumah hanya yang kecil dan jelek, doa meminta motor yang butut aja nggak papa ya Allah. Pintalah sesuatu yang tinggi dan baik.

Terakhir adalah nimatilah doa kita, yakinlah akan dikabulkan, dan gunakanlah bahasa yang baik dan sopan.

Tausiyah Ustad Herry Setiawan
Jelang Berbuka
Beberapa menit menjelang berbuka puasa, terdapat lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh kakak dari Daarul Qur'an dilanjut pembacaan doa buka puasa oleh adik Dannis.

Saat berbuka puasa tiba, kami langsung menyerbu meja ta'jil. Terdapat kolak ubi cendol, es mentimun, kurma, bakpao ungu serta teh hangat. Beberapa orang lainnya juga langsung menyerbu ruang makan besar di sisi samping. Adik-adik begitu antusias berbuka puasa; ada yang memborong kue kurma, makan nasi dengan porsi jumbo, hingga mengambil es krim hingga 5 kali.

Es Krim jadi menu favorit adik-adik
Dihabisin yaa makanannya :)

Acara diakhiri dengan foto bersama dan pembagian santunan anak yatim.
Santunan Anak Yatim
Keseruan gathering dan bukber para blogger dengan anak-anak yatim. (VIVA.co.id/Ricky Anderson)


Semoga kita semua selalu dilancarkan rizki agar bisa berbagi kepada sesama. Aamiin. :D

Rabu, 25 Mei 2016

Liburan ke Jogja Sekaligus #GoDiscover Lokasi-Lokasi Syuting AADC 2

Long time no blogging. Saking lamanya, saya bahkan udah lupa gimana gaya menulis blog biasanya (hahaha). Sekarang tiba-tiba pengen nulis lagi karena keseruan weekend lalu. Penasaran? Iyain aja.

Beberapa waktu lalu, simPATI lewat akun instagramnya ngadain kompetisi bikin ending cerita “Ada Apa Dengan Cinta? 2” atau AADC 2 versi kita masing-masing. Kalau peserta lain mungkin cuma iseng, saya lumayan niat. Saya recall pengalaman menonton AADC 14 tahun lalu ketika saya masih di bangku 5 SD, berimajinasi tanpa batas, juga membuat puisi ala Rangga.

Begini kurang lebih submisi saya:
Empat belas tahun yang lalu, seorang bocah kampung yang duduk di bangku lima SD excited luar biasa karna akan segera nonton di bioskop untuk pertama kali; sebuah film berjudul Ada Apa Dengan Cinta.Tontonan yang kurang sesuai sama umur ketika itu tapi berhasil bikin gue jatuh cinta sama bioskop, sama film Indonesia, sama dunia bahasa & sastra, sama teh Melly & karya-karyanya, sama Mira Lesmana-Rudi Soedjarwo-Riri Riza, juga jatuh cinta sama Cinta.

Gimana ya endingnya...AADC 1 emang gantung banget. Bikin penasaran sekaligus bikin tiap ngeliat Bandara Soekarno Hatta jadi kzl kenapa Cinta gak beli tiket pesawat on the spot aja.Kalo gue dibolehin bikin ending AADC, pasti begini....Rangga balik dari New York karna ada question mark yang mengganjal, ada apa dengan Cinta? selain juga Rangga udah janji bakal balik ke Indonesia buat memperjelas perasaan satu sama lain. Awalnya Cinta ragu... Tapi karena Rangga konsisten menjelaskan perasaan & alasan kepergiannya lewat berbagai puisi dan karya sastranya selama ini, akhirnya Cinta luluh. Rangga berhasil meyakinkan Cinta bahwa selama ini dia sebenarnya tidak pergi, melainkan memantaskan diri untuk dicinta, oleh Cinta.Akhirnya mereka pun hidup bahagia dan dikenal masyarakat Indonesia sebagai Bapak & Ibu Sastra Modern Indonesia. Cinta & Rangga berhasil #GoDiscover jenis sastra baru tapi juga tidak melupakan sastra lama. "Seribu purnama kan kujaga. Agar cintanya dan diriku bisa saling rindu. Bukan dalam bisunya pilu, dan hampa dalam tanya." @simPATI


Alhamdulillah, ending AADC 2 versi saya berhasil membuat kreatornya dapat hadiah liburan ke Jogjakarta selama 3 hari 2 malam. Atau mungkin karena saya beneran mirip Rangga?
Pengumuman pemenang #GoDiscover AADC 2 di instagram @simpati

Penasaran sama filmnya.
Deret M, Sob!
Tema Go Discover Jogjakarta ke lokasi-lokasi pembuatan film AADC 2 pastinya makin bikin saya penasaran sama AADC 2. Di hari pertama penayangan AADC 2 di Indonesia, 28 April 2016, saya bela-belain nonton bareng temen-temen. Di sini sejarah terukir, untuk pertama kalinya saya nonton film di deretan bangku bioskop paling depan. Untung aja bukan film ber-subtitle atau film action, udah minus mata bisa minus yang lainnya entar. Namanya juga orang Jawa, udah buntung pasti masih ngerasa untung.

Singkat cerita, Jumat 13 Mei 2016 pun tiba. Saya bersama kru simPati dan 3 pemenang lainnya; Mba Suzan, Mba Deasy, dan Bang Hendra ngumpul di Terminal 1C Bandara Soekarno Hatta untuk bersiap take off pukul 9:20 WIB. Tak disangka, kejutan pertama muncul bahkan sebelum kita sampai di Jogja. Pasalnya, sembari nunggu check-in, ada ibu-ibu yang wajahnya familiar mondar-mandir di depan kita. Bener aja, setelah sempet nggak yakin, ternyata bener itu adalah ibunya Rangga di film AADC2. Karena kelamaan mikir dan ngeliatin doang, akhirnya nggak ada satu pun diantara kami yang minta foto bareng.
Check-in Wefie di Terminal 1C Soekarno-Hatta!
Semua berjalan tepat waktu dan sekitar jam 11 siang kami sudah mendarat di Bandara Adisucipto Jogjakarta. Pihak travel agent udah nunggu dan langsung nganter ke hotel di daerah Prawirotaman; Indies Heritage Hotel. Karena beberapa tamu hotel baru akan check-out setelah sholat Jumat, akhirnya rombongan kami hanya titip barang dan berencana memulai eksplor itinerary hari pertama biar nggak makin kesorean. Personally, saya suka banget sama Indies Heritage Hotel pada pandangan pertama. Nuansa hotelnya tuh clean, white, simple, tapi tetep ada sentuhan tradisional Jogjakarta. Sama seperti tema feed instagram yang sedang saya gemari. Coba aja cek di sini.
Melewati Gunung Merbabu dan Merapi
Sudut Ruang Tunggu Hotel
Ornamen Jendela Indies Heritage Hotel
Go Discover pertama kita adalah ke Warung Bu Ageng – Warung Masakan Omah!
Buat yang udah nonton film AADC 2, masih inget adegan geng Cinta (minus Cinta) makan malam sambil panik nungguin Cinta yang masih asik jalan sama Rangga? Nah di sini tempatnya. Terletak di kawasan Tirtodipuran, warung yang nyediain masakan Jawa bercampur Kalimantan ini adalah milik seniman Butet Kertaredjasa. Nama Bu Ageng sendiri terinspirasi dari panggilan akrab cucu-cucu  terhadap istri Om Butet, ibu Rulyani Isfihana.
Memasuki Warung Bu Ageng di tengah teriknya matahari
Karena emang jam makan siang, kita harus waiting list selama kurang lebih 10 menit. Sembari menunggu, saya dan teman-teman langsung sigap ngeluarin kamera buat capture setiap sudut warung yang memang unik dan Jawa banget. Owner nya aja seniman, wajar aja kalau warung makannya juga merupakan suatu karya seni. Kesan ‘omah’ atau rumah langsung terasa karena meja dan kursi kayu yang seakan sedang menyambut tamunya dengan hangat (hahaha). Apalagi terdapat sumur tua yang masih dipertahankan serta lukisan dan foto tokoh-tokoh Indonesia di dinding belakang. Buat yang berkunjung pada siang hari, ‘kehangatan’ akan semakin terasa karena konsep warung yang terbuka seperti pendopo tanpa banyak sekat. Untung aja ada kipas angin di beberapa atap dan sisi. Untung lagi, kan.
Suasana Warung Bu Ageng saat jam makan siang

Beberapa menu yang saya icip di Warung Bu Ageng adalah Nasi Campur Terik Daging Sapi, Lele Njingkrung, Bubur Duren Mlekoh, dan Pisang Panggang Kayu Manis. Menu yang paling melekat di pikiran saya adalah Lele Njingkrung. Baru pertama kali saya coba lele asap yang kemudian digoreng kering, benar-benar krispi dan gurih. Bentuknya pun unik karena digoreng pada posisi meringkuk. Nasi campurnya pun enak meskipun porsinya sedikit terlalu kecil untuk saya. (Elu yang kegedean, Bray!)
Nasi Campur Terik Daging Sapi
Lele Njingkrung
Bubur Duren Mlekoh
Kami juga beruntung bisa ketemu langsung sama Om Butet yang kebetulan sedang ada di Warung Bu Ageng di tengah kesibukan beliau yang nggak selalu ada di Jogjakarta. Sehat selalu ya Om!
Foto bareng Om Butet

Udah kenyang, kami ngelanjutin perjalanan dan mampir ke Padepokan Seni Bagong Kusudiarjo.
Adegan Cinta menampar Rangga di film AADC 2 berlatar di padepokan ini lho. Nggak mau kalah, saya pun mereka ulang adegan dengan nyuruh Mbak Deasy nampar saya. Adegan demi adegan berlangsung nggak serius dan malah ketawa mulu. Dasar, aktor-aktor kelas teri! Hahaha.
Gank Cinta?
Tidak lama kami berada di sini, hanya sekedar reka ulang adegan AADC 2 dan foto bareng di depan padepokan. Rombongan travel lainnya ternyata berdatangan dan udah nunggu buat foto-foto di latar yang sama.
Padepokan Seni Bagong Kusudiarjo

Istana Ratu Boko yang begitu luas.
Perjalanan selanjutnya menuju Istana Ratu Boko makan waktu hampir 1 jam. Dengan tarif masuk sebesar  Rp.25.000 per orang, kami langsung masuk ke area tangga dengan pemandangan hamparan pemukiman warga Sleman di sebelah kiri, dan taman dengan beberapa gazebo di sebelah kanan. Ternyata kawasan ini luas buangeeeet. Setelah googling, ternyata luas keseluruhan kompleks Ratu Boko sekitar 25 hektar. Wow!

Pemandangan ketika naik ke Gerbang Istana Ratu Boko
Suka sedih kalo ngeliat anak tangga :')
Setelah sampai di pintu gerbang kompleks Ratu Boko, saya langsung ngeh kalau tempat ini adalah tempat yang cukup populer di dunia fotografi terutama buat para sunset catcher. Seperti di destinasi sebelumnya, saya langsung penasaran dimana titik persis Rangga ngobrol sama Cinta, juga dimana bebatuan tempat Rangga dan Cinta lari pas ujan turun. Setelah kesana-kemari dan bingung dimana titik persisnya, saya putuskan buat foto dimana aja deh yang penting reka ulang AADC 2.
Pintu Gerbang Kompleks Istana Ratu Boko

Rame ya? :')
Salah satu bagian kawasan Ratu Boko yang keren adalah ada pemandian di belakang istana yang cukup luas dan nampak segar sekali terutama buat saya yang emang lagi kegerahan dan kepanasan naik turun bangunan Ratu Boko.

Pemandian Istana, tapi nggak boleh nyemplung yaaa

video
Tiga puluh menit menuju sunset, kita mutusin buat ngeliat sunset di tempat lain yaitu di Tebing Breksi yang lokasinya nggak jauh dari Ratu Boko.

Bukit Breksi atau Tebing Breksi
Tebing Breksi adalah tempat wisata baru di Jogja yang berhasil menarik perhatian. Meskipun hanyalah tambang batu biasa setinggi 20 meter, dari atas bukit kita bisa ngeliat pemandangan yang luar biasa. Sayang seribu sayang (yaolo bahasa lu bray!), waktu kita kesana sang surya yang sedang menuju peraduannya (kerasukan seniman sastra lama) lagi ketutup awan.
Pas baru sampe di Tebing Breksi
Berkibarlah
Kita pun duduk-duduk aja di atas bukit sembari menikmati semburat senja dan lampu-lampu permukiman yang pelan-pelan muncul. Oiya, yang unik disini adalah, semua pengunjung harus sudah turun dari bukit di jam 6 kurang 10 menit. Jadi bakal ada petugas yang naik dan ngasih tau kita kalau waktu di atas bukit udah mau abis. Sumpeh, berasa lagi karaoke diingetin sisa waktu. Tapi bedanya, yang ini nggak bisa perpanjang. Mungkin takut kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan. Soalnya sejauh mata memandang sih nggak ada pagar pembatas dan lampu penerangan di atas bukit. Kan lumayan Bro kalau jatuh dari tebing dengan ketinggian 20 meter.
Bang Hendra & Mbak Suzan dipaksa jadi model :P
Menjelang malam dari atas Tebing Breksi


Menuju Sate Klathak Pak Bari
Setelah naik turun bukit, sampailah kita pada saat-saat kelaparan.
Sesuai itinerary, saatnya menuju warung makan yang juga ada di salah satu scene AADC 2; Sate Klathak Pak Bari!
Penampakan Sate Klathak Pak Bari dari Depan
Terletak di dalam Pasar Jejeran, Wonokromo, Bantul, Jogjakarta, ternyata Sate Klathak Pak Bari Cuma sedia menu makanan berbahan daging kambing. Meskipun bukan pecinta kambing, tapi penasaran juga pengen coba.
Sate kambing siap diolah.
Saya nggak tau apakah sebelum AADC 2 warung ini sudah terkenal atau belum. Tapi yang jelas, waktu kita datang ke sini, pengunjungnya lagi rame banget. Kita kedapetan duduk lesehan di sebelah warung karena meja dan kursi lainnya udah terisi pengunjung lain. Waktu mau pesen, kita ditawarin mau sate atau gule dan semuanya kompak memilih sate. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya pesanan datang. Meskipun 1 porsi hanya berisi 2 tusuk sate, tapi potongan dagingnya cukup besar dan lebih banyak dari sate pada umumnya. Salah satu keunikan sate klathak adalah penggunaan jeruji sepeda sebagai tusukan sate! Konon katanya, jeruji besi dipercaya bisa jadi penghantar panas yang lebih baik dibanding tusukan kayu sehingga daging kambing dapet panasnya merata.

Selain tusukan, rasa sate pun juga unik. Sate kambingnya agak garing, berasa asin-asin gurih gimana gitu, dan pastinya empuk. Sebenernya sate bisa langsung dimakan pake nasi, tapi kita juga bisa minta kecap manis atau kecap manis yang ditaburi irisan cabe rawit. Selain minta kecap rawit, kita juga nambah gule kambing biar nggak penasaran. Nyam! (Ngetik sambil ngeces)
Mari makan!
Sekitar jam 9 malam kita sampai di hotel lagi, langsung check-in (late late late check-in) dan istirahat biar siap menghajar itinerary esok hari yang lebih padat. :)
video


Sabtu jam 3 pagi, bersiap catching sunrise di Punthuk Setumbu.
Jam 3 pagi semua peserta udah diminta buat ngumpul di lobi hotel. Kok pagi bangeeeet? Yap, karena hari ini kita mau ngeliat sunrise di Punthuk Setumbu, Jogjakarta.
Weiiiits! Inilah salah kaprah orang-orang tentang Punthuk Setumbu. Punthuk Setumbu itu sebenarnya ada di Magelang, Jawa Tengah.. Tapi karena banyak wisatawan Jogja yang nyempetin diri buat ke Punthuk Setumbu, jadi banyak juga yang nganggep Punthuk Setumbu ada di Jogja, padahal udah beda Provinsi.

Perjalanan dari hotel ke lokasi Punthuk Setumbu makan waktu sekitar 45 menit – 1 jam. Dengan tiket masuk wisatawan domestik sebesar 15ribu rupiah, saya kemudian dihadapkan dengan tangga berliku yang bener-bener tinggi dan terjal. Meskipun ‘cuma’ 300 meter, trekking ini sukses bikin saya ngos-ngosan dan bercucuran keringat pagi buta.
Sebelum menaiki tangga terjal itu...
Sampai di atas, sudah banyak wisatawan baik lokal atau mancanegara yang berdiri nyari view point terbaik buat nunggu sunrise dan foto-foto. Di sisi lain, saya lihat ada view point dengan sederet fotografer berlensa tele yang sedang sibuk mengatur kamera masing-masing, mungkin memang titik yang dikhususin buat fotografer profesional kali ya.
We-blur. Wefie ngeblur.
Pelan-pelan matahari mulai muncul. Saya begitu takjub melihat pemandangan di depan saya. Selain cahaya kemerahan yang pelan-pelan muncul, saya juga bisa melihat kemegahan Candi Borobudur dan Rumah Doa Merpati (juga dikenal dengan Gereja Ayam) dari kejauhan dengan selimut kabut tipis di balik pepohonan.
Ada yang bisa nemu mana Gereja Ayam dan Candi Borobudur?
Jalur trekking kembali ke parkiran yang menurun memang lebih menyenangkan karena nggak pake capek dan ngos-ngosan. Tapi, terdapat segerombolan ibu-ibu di depan kami yang berjalan amat lambat, sembari nyanyi dan bahas hal rumah tangga ngalor-ngidul, memaksa kami menyesuaikan tempo langkah kaki menuruni tangga. Salah satu percakapan yang bikin ngikik di tengah pemandangan luar biasa rancak adalah mereka sempet-sempetnya melontarkan pertanyaan “Daun singkong di sebelah ini boleh dipetik nggak ya?”. Emak-emak.

Ayam atau Merpati.
Sama seperti Rangga yang kemudian bergegas ngajak Cinta buat ke view point sunrise selanjutnya, kita pun langsung cabut ke destinasi Rumah Doa Bukit Rhema atau Gereja Ayam atau Rumah Doa Merpati. Lah, mana yang bener?
Menuju Bukit Rhema pake Jeep
Bangunan yang berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, Jawa Tengah ini emang sekilas serupa sama ayam. Ceritanya, pada tahun 90an Pak Daniel Alamsjah yang berasal dari Lampung mendapat petunjuk lewat mimpinya untuk membuat rumah ibadah. Rumah ibadah yang ingin dibangun nggak dikhususin buat umat agama tertentu tetapi untuk semua umat yang percaya adanya Tuhan. Pak Daniel juga berencana membuat rumah ibadah ini seperti burung merpati karena merpati adalah lambang perdamaian. Tapi karena biaya yang nggak mencukupi, pembangunan rumah doa pun nggak dilanjutin. Nah, ketika pengerjaan terhenti, sisi depan jadi berbentuk kepala ayam dan sisi belakang udah terbentuk ekor. Jadilah warga sekitar menyebut bangunan tersebut sebagai Gereja Ayam.
Penampakan Rumah Doa Merpati dari depan
Bagian dalam 'badan' Rumah Doa Merpati
Nggak mau kalah sama Rangga dan Cinta, kita pun naik ke puncak bangunan yang terletak di bagian kepala. Setelah menaiki tangga-tangga yang belum sepenuhnya jadi, kami pun sampai dan foto-foto deh. Oh iya, puncak Rumah Doa Merpati ini nggak terlalu luas. Kurang lebih, hanya 10-12 orang yang bisa berada di atas di waktu yang bersamaan. Jadi tiap 10 menit, ada petugas di bawah yang minta kita gantian.
Tangga menuju puncak yang curam banget
Wefie di puncak Rumah Doa Merpati

Kembali ke hotel
Sekitar pukul 9 kita sampai di hotel. Karena waktu sarapan yang tinggal 1 jam lagi, semua langsung menyerbu restoran buat sarapan.
Kalap.

Kenyang sarapan, balik ke kamar buat istirahat dan bersiap sebelum jam 1 siang lanjut ke destinasi berikutnya.

#ViaViaJogja, a Traveler’s Cafe, Travel, Artisan Bakery, Guesthouse, Fair Trade Shop.
Di AADC 2, ViaVia Artisan Bakery jadi lokasi Karmen dan Milly pertama kali ngeliat Rangga yang ternyata juga lagi di Jogja buat nemuin Ibunya. Belum begitu lapar sebenernya buat makan siang. Tapi, yaudah lah yuk. Meskipun nggak laper tapi saya mah pasti tetap lahap.
ViaVia Bakery
Bakery nya udah banyak yang abis
ViaVia ini kayak one stop shopping; dari cafe, bakery, pernak-pernik tradisional, guest house, sampai paket-paket wisata di Jogja semua ada. Dari menu makanan, harga, ambiance, serta pengunjung, bisa dibilang kalau ViaVia lebih menyasar turis mancanegara.


ViaVIa Travel Fair Shop
masih di ViaVia
Mbak Deasy pose di tangga menuju lantai atas ViaVia Resto, tempat kami makan siang.
Salah satu sudut ViaVia
Saya memesan Shrimp Laksa yang hari itu jadi special menu, maklum lagi bosen makan daging dan ayam, juga kayaknya pas aja makan yang asem dan seger di siang hari yang panas ini. Sambil minum pineaple juice with extra lime, makin pas! Overall saya puas banget sama menu yang saya pesan, rasa dan porsinya sangat satisfying. Beda sama Vegetarian Spaghetti pesenan Bang Hendra yang lumayan hambar atau Sop Buntut pesanan Mba Suzan yang justru keasinan. Oiya, salah satu hal yang bikin saya bilang ViaVia lebih menyasar turis asing adalah menu-menu makanan disini sangat nutritious (hampir selalu ada sayuran di dalamnya) dan highlights di buku menu seperti non-msg, no palm oil dan selalu mengusahakan penggunaan bahan-bahan organik. Ornamen-ornamen dalam ViaVia juga unik dan banyak memanfaatkan barang bekas menjadi hiasan dinding.
Beberapa highlight di buku menu ViaVia Resto
Caesar Salad
Shrimp Laksa, dayummmm!
Vegetarian Pasta pesenan Bang Hendra

Minuman yang kami pesan :)
Nge-dessert di Tempo Gelato.
Makan udah, dessert nya belom. Jalan-jalan sore lah kita di sekitar ViaVia sambil nyari Tempo Gelato yang memang hits akan kelejatan eskrimnya. Sempet bingung ngeliatan puluhan bucket berisi eskrim dengan rasa yang beda-beda. Meskipun ada beberapa rasa yang unik kayak Chocolate Spicy, Ginger, dan Cinnamon, tetapi saya lebih memilih rasa yang udah pasti-pasti aja macam Nutella dan Tiramisu. Dan bener aja, emang enaaaaak!
Penampakan Tempo Gelato
My Gelato!
Malioboro free time!
Sebelum ke Malioboro, kita sempet mampir ke butik batik apa gitu (lupa namanya). Tapi karena mau cari oleh-oleh yang hemat aja, ya cuma cuci mata aja di butiknya.

Pukul 5 sore kita semua sampai di Malioboro dan beneran mencar dhewe-dhewe. Mbak Suzan nonton AADC 2 di Amplaz (cian amat belom nonton AADC 2 karena kedapetan tugas di pedalaman), Mbak Deasy ketemu sama temen-temen atau keluarga yang juga lagi ada di Jogja, sementara saya dan Bang Hendra juga jalan di Malioboro dengan tujuan masing-masing. Setelah beli wedang uwuh pesenan adek, pakaian pesenan teman-teman, dan beberapa pernak-pernik saya pun ‘ngemil’ nasi gudeg. HAHA! Maklum, udah 2 hari di Jogja tapi belum makan nasi gudeg, kan kurang afdhol ya ya ya. Setelah nasi gudeg, tidak lupa saya bungkus lumpia goreng yang banyak dijual di kaki lima Malioboro dan juga cilok ayam. Leb!
Malioboro jelang petang
Enak!

Eh sambil jalan-jalan tak tentu arah, tiba-tiba Mbak Suzan nitip pakaian khas Jogja buat anak cowok umur 1 tahun dan saya berhasil cari oleh-oleh buat Mbak Suzan! Semoga anaknya suka ya Mbak..

The Beatles Pub, Baby!
Hampir jam 10 malem, kita semua (kecuali Bang Hendra yang emang belom balik balik dari Malioboro) langsung cao ke The Beatles Pub yang deket banget dari hotel. Jalan kaki 5 menit, sampe.
Welcome to The Beatles Pub!
Live Music
Sebenernya nuansa cafe nya bisa dibilang sederhana. Selayaknya rumah biasa tapi dengan foto-foto personil The Beatles yang menempel dimana-mana. Yang bikin seru ada juga live band yang nggak cuma ngebawain lagu-lagu The Beatles tapi juga lagu-lagu lainnya termasuk lagu Indonesia. Dasar nggak hafal lagu-lagu The Beatles, saya justru lebih enjoy dan sing along kalo band nya lagi bawain lagu-lagu mainstream masa kini.

Waktu waiter nya dateng, saya nanya apakah tingkat kematangan menu steak bisa dipilih dan dia bilang nggak bisa, sudah pasti well done. Saya pun pesen sirloin steak. Ketika sirloin steak dateng, ternyata eh ternyata masih medium well atau justru medium rare (?) dan cairan merah selalu keluar tiap kali ngiris daging. Alhasil cuma makan bagian-bagian pinggir daging. Selain itu, rasa dagingnya flat, nggak dikasih saus (bbq kek, blackpepper kek, mushroom kek) macam restauran steak umum yang saya tau, dan beberapa sayuran di saladnya pahit. Untungnya ada kakak-kakak baik hati Mbak Suzan & Mbak Deasy yang rela ngasih makanannya ke saya dan juga hiburan live music yang bikin saya still enjoying the night.


Nggak nyangka udah day 3.
Kali ini surprisingly dan finally ada menu gudeg di sarapan hotel, puas-puasin deh nggak mau rugi. HAHAHA

Sambil sedih karena nggak berasa udah last day, jam 10 kita check out dan langsung meluncur ke Komplek Makam Raja-Raja Mataram. Banyak sudut-sudut kece buat background foto ataupun jadi objek foto itu sendiri. Tapi sadly, kita nggak bisa bener-bener masuk ke makam raja-raja Mataram karena ada persyaratan terkait pakaian. Cewek harus pakai kain jarik, kemben, dan lepas jilbab. Cowok harus pakai peranakan, kain jarik, dan blangkon. Bisa nyewa sih, cuma saya agak males karna pasti gerah banget dan takes time sementara kita kan masih punya to-do list yang lain.
Sampe di Makam Raja-Raja Mataram
Perhatian!
1 2 3 cekrek!


Maafkan saya, Bapak.
Mungkin cuma kata maaf yang bisa saya kasih ke bapak-bapak pengayuh becak yang ‘beruntung’ tiada tara mendapatkan penumpang semini saya (se-mini cooper beratnya, iya). Ya, sampai di Kotagede kami menyewa becak untuk berkeliling kota menikmati toko-toko penjual perak dan sambil merasakan rintik gerimis yang mengundang. Mengundang lapar. (halah).
Kebayang nggak gimana beban dan perasaan Bapak ini?

Sellie Coffee, Kamu Ja. Hat.
Karena kemaren sore udah pada kenyang dan jajan gelato, jadi plan ke Sellie Coffee ganti jadi hari ini. Tapi bro, ketika sampe di depan Sellie Coffee doi masih tutup. Padahal jam udah menunjukkan pukul 12 lewat, which is harusnya udah buka ya..

Sedih. Padahal salah satu scene yang sangat fenomenal di film AADC 2 sampai dibuat meme kan bertempat di sini.

Cintailah ploduk-ploduk “Lokal” Indonesia.
Ngomong-ngomong soal lokal, nggak cuma produk-produk dan wisata domestik aja yang harus kita support dan kunjungi, tapi juga Lokal Hotel & Restaurant yang juga makin terkenal karna ikut nemplok di salah satu scene AADC 2. Sampe di resto jam 1 siang tapi kita harus nunggu exactly 1 jam karna full seat. Udah muncul di AADC 2, pas jam makan siang, dan ketambahan lagi ada gathering besar-besarannya Mbak Diana Rikasari. Huft.

Alhasil kita diminta nunggu di lobby hotelnya that is quite minimalist-artsy-relaxing kind of lobby. Thank God.Singkat cerita, saya, mbak Deasy dan beberapa kru pesan menu fried oxtail with soup karena dari gambar seems tempting. Enak banget sih, gurih dan manisnya lazis. Buntut gorengnya empuk juga. Tapi nunggunya nggak 45 menit juga lah yaa, padahal menu ricebowl dan lainnya keluar dalam waktu kurang dari 15 menit. Selain lagi hype dan makanannya enak, ambiance di sini menurut saya seru dan rapih. Interiornya clean, white, dengan sentuhan hangat dari furnitur-furnitur kayu tapi modern dan yang paling catch attention tentu saja mural bertuliskan Jogjakarta yang udah pasti jadi incaran pengunjung resto karna nggak bisa didapetin di tempat lain.

Mural Jogjakarta di Lokal Resto
Fried Oxtail aka Buntut Goreng
Nggak lupa, saya dan kru melakukan foto reka ulang adegan AADC 2. Semoga mirip ya. Hihihi.
Reka Ulang AADC 2
Thank you, simPATI!
Alhamdulillah kita takeoff dari Jogja dan sampai kembali di Jakarta tepat waktu dan dalam kondisi sehat lahir batin. Banyak tempat-tempat, hampir semuanya mungkin ya, adalah tempat-tempat yang baru pertama kali saya kunjungi meskipun dari kecil selalu ke Jogja tiap tahun bareng keluarga. Thankyou berat buat simPATI for creating this amazing experience;
buat tim AADC 2 atas film keren yang sekaligus mengangkat lokasi-lokasi Jogjakarta yang belum banyak dieksplor;
buat Mbak Deasy, Mbak Suzan, dan Bang Hendra yang udah jadi gank seru selama di Jogja;
buat crew yang ikut (Andre, Ayu, Dimas) yang udah taking care of us dan bantuin foto-foto;
dan semua yang nggak bisa ditulis satu persatu (hahahahaaaaaa berasa menang Grammy).


Keep #GoDiscover, find everything new in your surroundings. Share it and you will find who you really are and may inspire the others.